× -bahasa-

×
×
  • url:
×
×
×
1 0 0 0 0 0
1
   ic_mode_light.png

KRAKATAU

Buku Krakatau karya R. D. M. Verbeek, diterbitkan oleh Landsdrukkerij Batavia pada 1885, merupakan salah satu sumber primer yang sangat penting untuk merekonstruksi bencana Krakatau 1883. Buku ini bukan sekadar uraian tentang letusan gunung api, tetapi laporan ilmiah yang menggabungkan kesaksian lapangan, laporan pejabat, berita surat kabar, data hidrografi, meteorologi, dan pengamatan langsung setelah bencana. Verbeek menjelaskan bahwa dampak letusan terasa sangat luas, bahkan melalui gelombang laut, gangguan udara, dan fenomena atmosfer hingga berbagai wilayah dunia.

Berikut ulasan yang saya fokuskan khusus pada situasi bencana di Banten, terutama Serang, Merak, Anyer, Tjaringin/Caringin, Pandeglang, dan kawasan pesisir Selat Sunda.

1. Bencana Krakatau dalam konteks Banten

Menurut Verbeek, rangkaian letusan besar sebenarnya didahului oleh aktivitas Krakatau sejak Mei 1883. Pada tahap awal, suara ledakan sudah terdengar di berbagai tempat, tetapi situasi masih membingungkan karena sumber ledakan belum segera diketahui. Bahkan Serang, Anyer, dan Merak, yang secara geografis lebih dekat dengan Krakatau dibanding Batavia, pada awalnya justru dilaporkan tidak mendengar ledakan tersebut.

Aktivitas Mei tersebut kemudian menjadi semacam fase pendahuluan. Verbeek menyebut bahwa letusan-letusan sejak 20 Mei sampai menjelang 26 Agustus merupakan pendahuluan, sedangkan bencana sebenarnya terjadi pada 26–27 Agustus 1883.

Ini penting untuk memahami situasi masyarakat Banten: bencana tidak muncul sepenuhnya tanpa tanda, tetapi rangkaian gejala sebelumnya belum dipahami sebagai ancaman yang akan menghasilkan kehancuran luar biasa.

2. Serang: dari hujan batu apung menuju kegelapan

Gambaran paling menarik mengenai Serang terdapat dalam laporan saat puncak bencana.

Pada pagi 27 Agustus 1883, Serang mengalami perubahan suasana yang sangat drastis. Sekitar pukul 10.15 terdengar ledakan, kemudian sekitar pukul 10.30 kegelapan mulai turun. Sebelum pukul 11.00 keadaan sudah demikian gelap sehingga orang bahkan tidak dapat melihat benda-benda di sekitarnya.

Kemudian terjadi hujan material vulkanik:

batu-batu kecil/potongan batu apung;

lumpur;

abu basah;

kemudian abu yang lebih kering.

Abu dan lumpur basah menempel pada daun dan ranting sehingga beratnya menyebabkan pepohonan patah.

Situasi psikologis masyarakat juga digambarkan secara menarik. Ketika ledakan berhenti, terjadi suasana yang sangat sunyi. Verbeek mencatat adanya ketegangan dan rasa tertekan, sementara binatang peliharaan menjadi gelisah dan berusaha mendekati manusia serta berlindung di dalam rumah.

Kegelapan berlangsung berjam-jam. Sekitar pukul 14.00 mulai muncul sedikit cahaya dari arah timur, tetapi hujan abu masih berlangsung. Bau belerang sangat kuat dan tidak menyenangkan. Bahkan sekitar pukul 16.00 lampu masih dinyalakan karena suasana belum kembali terang. Hujan abu baru berhenti sekitar pukul 23.00.

Makna penting bagi sejarah Serang

Serang dalam buku ini bukan merupakan pusat kehancuran tsunami seperti Merak atau Tjaringin. Serang lebih banyak mengalami dampak atmosferik dan material vulkanik: kegelapan, abu, batu apung, lumpur, bau belerang, gangguan komunikasi, serta tekanan psikologis.

Bahkan hubungan telegraf antara Serang dan Batavia terputus setelah hujan material vulkanik mulai terjadi.

Dengan demikian, bencana Krakatau juga dapat dilihat sebagai krisis komunikasi dan informasi. Ketika pusat pemerintahan di Batavia membutuhkan informasi mengenai daerah Banten, justru jalur komunikasi dengan Serang terganggu.

3. Merak: salah satu kawasan Banten yang mengalami kehancuran langsung

Jika Serang menggambarkan dampak abu dan kegelapan, maka Merak menggambarkan kehancuran pesisir akibat gelombang laut.

Buku Verbeek sangat penting karena memberikan gambaran langsung mengenai kawasan Sangkanila dekat Merak.

Sekitar pukul 10.00, seorang pejabat bernama Abell bersama Wedana berada di Sangkanila, sebuah kampung yang terletak sangat dekat dengan laut. Sebagian besar penduduk kampung-kampung sekitar telah melarikan diri menuju daerah yang lebih tinggi, termasuk Tjilegon dan pegunungan. Namun penduduk Sangkanila masih banyak yang bertahan.

Tiba-tiba mereka melihat gelombang laut yang sangat besar. Dalam kesaksian tersebut, tinggi gelombang digambarkan kira-kira seperti pohon kelapa.

Abell dan Wedana kemudian menyelamatkan diri dengan berlari menuju bukit. Dari tempat tinggi mereka melihat seluruh kawasan pesisir telah tergenang. Setelah itu kegelapan kembali datang disertai hujan abu dan lumpur.

Mereka bertahan selama sekitar empat jam di perbukitan sebelum dapat kembali menuju Tjilegon.

4. Kehancuran fasilitas Merak

Bagian buku ini sangat penting untuk sejarah Merak sebagai kawasan pelabuhan dan transportasi Banten.

Setelah bencana, ketika insinyur Nieuwenhuijs tiba pada 28 Agustus, hampir tidak ada lagi bangunan yang tersisa. Rumah dan bengkel telah hilang. Bahkan rumah insinyur yang berada di atas bukit setinggi sekitar 14 meter juga tersapu, dan yang tersisa hanya lantai semen.

Kerusakan juga mengenai infrastruktur:

jalur rel kereta api rusak;

rel terlepas dari bantalan;

rel berubah bentuk dan melengkung;

lokomotif terseret sekitar 500 meter dari tempat semula;

fasilitas pelabuhan/dermaga mengalami kehancuran;

kawasan permukiman ikut tersapu gelombang.

Buku juga menyebut bahwa sebuah telegram melaporkan jalur kereta, dermaga dan kawasan Batoe Lawang rusak, sementara gerbong kereta ditemukan berada di laut dan kawasan kampung Cina tersapu.

Jadi, bencana Krakatau di Merak bukan sekadar bencana alam yang mengenai permukiman, tetapi juga menghancurkan sistem transportasi dan fasilitas ekonomi modern yang sedang berkembang di kawasan tersebut.

5. Korban manusia di Merak

Verbeek memberikan daftar korban yang cukup rinci.

Di antara orang-orang Eropa yang meninggal terdapat:

kepala pertambangan K. A. Naumann beserta istrinya;

pengawas H. B. van Diest beserta istrinya;

pengawas J. Kaal;

masinis S. C. van Essen, istrinya dan empat anak;

kepala gudang J. S. Townsend beserta anaknya.

Hanya seorang pegawai pembukuan, E. Pechler, yang selamat karena saat kejadian berada di Tjilegon. Insinyur Nieuwenhuijs juga selamat karena telah meninggalkan Merak menuju Batavia pada 25 Agustus.

Korban dari kalangan pekerja pribumi juga sangat besar. Buku mencatat antara lain:

1 hoofdmandoer;

13 mandoer;

4 tukang kayu;

9 masinis;

2 pandai besi;

3 pekerja bengkel;

6 stoker;

135 kuli.

Disebutkan pula bahwa sebagian besar korban pekerja tersebut membawa keluarga dan hanya dua orang yang selamat.

Ini menunjukkan bahwa dampak sosial bencana di Merak sangat luas dan tidak terbatas pada kelompok kolonial atau pekerja fasilitas pelabuhan, tetapi juga masyarakat dan keluarga pekerja lokal.

6. Anyer: pesisir yang mengalami kehancuran berat

Anyer merupakan salah satu wilayah Banten yang paling penting dalam laporan Verbeek.

Dalam daftar isi saja, buku menyediakan bagian khusus mengenai:

> Serang → Merak → Anyer → kawasan antara Anyer dan Tjaringin → Tjaringin.

Artinya, Verbeek memperlakukan kawasan pesisir Banten tersebut sebagai salah satu wilayah utama untuk merekonstruksi bencana.

Kehancuran Anyer terutama berkaitan dengan gelombang laut, bukan hanya abu. Setelah komunikasi dengan Serang kembali, berita pertama mengenai kehancuran Anyer dan pantai utara Jawa segera diterima. Dari laporan-laporan tersebut kemudian diketahui bahwa gelombang yang berasal dari aktivitas Krakatau menyebabkan kerusakan luar biasa di pantai-pantai yang lebih dekat dengan gunung api.

Dalam catatan resmi yang dikutip Verbeek, di kota Anyer saja tercatat 568 penduduk pribumi meninggal, di luar korban Eropa dan Cina.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa Anyer mengalami bencana kemanusiaan yang sangat serius.

7. Tjaringin/Caringin: salah satu pusat kehancuran terbesar

Wilayah Tjaringin juga menjadi perhatian khusus Verbeek. Buku bahkan menyebut bahwa kehancuran Tjaringin dan Teluk Betung terutama disebabkan oleh gelombang terakhir yang paling besar.

Dalam daftar korban Banten, jumlah korban di wilayah Tjaringin sangat besar. Verbeek mencatat 1.880 penduduk pribumi meninggal di kota Tjaringin, selain kelompok Eropa dan Cina.

Hal ini menjadikan Tjaringin salah satu lokasi penting untuk memahami skala kemanusiaan bencana Krakatau.

8. Gelombang tsunami sebagai penyebab utama korban

Salah satu kesimpulan terpenting Verbeek adalah bahwa sebagian besar korban bukan disebabkan oleh letusan atau abu panas, tetapi oleh gelombang laut.

Ia secara eksplisit menyatakan bahwa jumlah korban yang sangat besar hampir seluruhnya disebabkan oleh banjir laut besar di pesisir Selat Sunda dan pantai utara Jawa, sementara korban akibat abu panas hanya sebagian kecil. Jumlah korban resmi yang dihimpun dalam laporan tersebut mencapai sekitar 36.417 orang.

Dalam konteks Banten, ini sangat penting.

Bencana Krakatau 1883 sebaiknya tidak hanya disebut sebagai "letusan gunung Krakatau", tetapi sebagai rangkaian bencana berantai:

letusan → ledakan besar → runtuhnya sebagian tubuh Krakatau → perpindahan massa air → gelombang laut besar → tsunami → kehancuran pesisir Banten.

Verbeek menghubungkan pembentukan gelombang dengan runtuhnya bagian Krakatau ke laut, yang waktunya hampir bersamaan dengan ledakan terbesar.

9. Perjalanan gelombang menuju pesisir Banten

Buku ini bahkan mencoba menghitung waktu perjalanan gelombang.

Perkiraan Verbeek menunjukkan:

Lokasi Jarak dari Krakatau Waktu rambat perkiraan

Sangkanila/Merak ±64 km ±41 menit
Anyer ±53 km ±33 menit
Tjaringin ±47 km ±29 menit
Tanjung Pujut ±72 km ±36 menit
Vlakke Hoek ±103 km ±42 menit

Berdasarkan perhitungan tersebut, Verbeek memperkirakan kehancuran di:

Sangkanila/Merak sekitar pukul 10.41;

Anyer sekitar pukul 10.33;

Tjaringin sekitar pukul 10.29,

dalam satuan waktu Krakatau yang digunakan dalam buku.

Yang menarik, Verbeek juga menegaskan bahwa gelombang tidak langsung datang bersamaan dengan ledakan. Di Tjaringin, misalnya, terdapat jeda sekitar seperempat jam atau lebih antara suara ledakan dan kedatangan gelombang.

10. Pandeglang dan pedalaman Banten: wilayah abu

Dampak tidak berhenti di pesisir.

Abu Krakatau tersebar luas di wilayah Banten. Data Verbeek menunjukkan ketebalan abu yang berbeda-beda:

Tjaringin: sekitar 10–20 mm;

Panimbang: sekitar 30–50 mm;

Tjibaliung: sekitar 15–30 mm;

Afdeling Anyer: sekitar 40–60 mm;

Kolelet: sekitar 20 mm;

Baros dan Pandeglang: sekitar 25 mm;

Tjiomas dan Tjimanoek: sekitar 30 mm;

Serang: sekitar 10–30 mm;

Merak: sekitar 20 mm.

Data ini sangat berharga karena memperlihatkan pola spasial dampak abu di Banten.

Dengan demikian, Banten pada 27 Agustus 1883 mengalami dua karakter bencana yang berbeda:

wilayah pesisir: terutama kehancuran akibat gelombang laut;

wilayah yang lebih ke pedalaman: terutama abu, kegelapan, hujan material vulkanik dan gangguan atmosfer.

11. Kerusakan lingkungan: Banten menjadi lanskap "gundul"

Dua bulan setelah bencana, Verbeek dan timnya melakukan pengamatan langsung.

Pada Oktober 1883, ketika memasuki Selat Sunda dan berlabuh di Poeloe Merak, mereka melihat pemandangan yang sangat berbeda dari keadaan sebelum bencana. Bukit dan gunung masih dipenuhi batang pohon yang telah menjadi gundul atau patah, sementara bagian bawah kawasan pantai dan pulau-pulau tampak telanjang, dengan batuan terbuka di berbagai tempat.

Yang sangat menarik adalah pengamatan mengenai vegetasi:

> daerah yang paling dekat dengan Krakatau masih tampak mati, sedangkan wilayah yang lebih jauh sudah mulai memperlihatkan pertumbuhan kembali.

Verbeek mencatat bahwa pada sekitar dua bulan setelah letusan, beberapa tempat yang lebih jauh sudah mulai ditumbuhi kembali, sedangkan Krakatau dan Sebesi serta sejumlah titik pantai yang sangat berat terkena bencana masih belum pulih. Ia memperkirakan sebagian besar vegetasi di daerah yang lebih jauh dapat pulih dalam waktu kurang dari satu tahun.

12. Merak dan pulau-pulau di Selat Sunda

Buku ini sangat kaya untuk kajian sejarah lingkungan kawasan Merak.

Dalam album gambar yang menyertai laporan, Verbeek secara khusus menyediakan:

Poeloe Merak setelah kehancuran;

Seboekoe-ketjiel setelah kehancuran;

dataran Sebesi setelah kehancuran;

Java's 1st Point setelah kehancuran;

Teloeq Betoeng setelah kehancuran.

Artinya, penulis tidak hanya mendeskripsikan bencana melalui teks, tetapi juga berusaha membuat dokumentasi visual topografi sebelum dan sesudah bencana.

Bahkan buku menyatakan bahwa 25 gambar berwarna dalam album memberikan gambaran kondisi kawasan yang terkena bencana antara 11–28 Oktober 1883, sekitar dua bulan setelah letusan.

Ini merupakan sumber yang sangat potensial untuk penelitian sejarah perubahan lanskap Merak–Anyer–Selat Sunda.

13. Bencana sebagai krisis masyarakat dan pemerintahan

Ada satu hal penting yang menurut saya sangat menarik untuk penelitian sejarah Banten.

Buku ini memperlihatkan bahwa bencana Krakatau bukan hanya persoalan alam, tetapi juga krisis administrasi kolonial.

Verbeek mengumpulkan laporan dari:

Residen Banten;

Residen Batavia;

Residen Lampung;

pejabat daerah;

insinyur;

petugas mercusuar;

kapal;

kantor hidrografi;

surat kabar;

masyarakat yang selamat.

Ia bahkan menyebut secara khusus bahwa data mengenai kerusakan di Bantam/Banten diperoleh dari Resident A. J. Spaan dan pejabat pemerintahan lainnya.

Dengan demikian, buku ini dapat dibaca sebagai arsip bencana, bukan sekadar buku vulkanologi.

14. Dampak lanjutan setelah 27 Agustus

Bencana tidak benar-benar berakhir pada 27 Agustus.

Di Banten masih terjadi gempa pada 1 September, termasuk di Menes dan Tjimanoek. Pada 18 September, gempa dirasakan di Rangkas-Betung, Malimping, dan Java's First Point. Kemudian pada 6 Desember 1883, gempa terasa di wilayah yang luas di Banten, termasuk Tjaringin, Lebak, Gunung Kencana dan Pasauran.

Buku juga mencatat fenomena lain pada Oktober. Di Serang, pada malam 8–9 Oktober, terlihat suasana langit yang tetap terang setelah bulan terbenam. Verbeek menduga fenomena itu mungkin berkaitan dengan partikel abu yang masih melayang tinggi di atmosfer.

Pada 10 Oktober, di Tjikawoeng, Teluk Welkomst, terjadi gelombang yang menggenangi pantai hingga sekitar 75 meter melewati garis pasang biasa, disertai suara bergemuruh dari arah Krakatau. Verbeek menghubungkannya kemungkinan dengan aktivitas erupsi lumpur setelah letusan utama.

Jadi, bagi masyarakat Banten, "bencana Krakatau" tidak berhenti pada satu hari.

15. Kesimpulan utama untuk sejarah Banten

Jika isi buku Verbeek diringkas khusus untuk sejarah bencana Banten, saya melihat ada enam lapisan peristiwa:

1. Fase peringatan

Mei–Agustus 1883 ditandai ledakan, abu, batu apung dan beberapa gempa kecil. Namun masyarakat belum mengetahui bahwa Krakatau sedang menuju bencana besar.

2. Fase atmosferik

Pada 27 Agustus, wilayah Banten mengalami kegelapan, hujan abu, batu apung, lumpur, bau belerang, serta gangguan komunikasi.

3. Fase tsunami

Inilah fase paling mematikan. Gelombang laut menghantam Merak, Anyer, Tjaringin dan pantai-pantai Banten lainnya.

4. Fase kehancuran sosial

Permukiman, fasilitas pelabuhan, rel kereta, rumah, tempat kerja dan masyarakat hancur. Merak merupakan contoh sangat jelas mengenai kehancuran infrastruktur.

5. Fase perubahan lingkungan

Hutan dan vegetasi pesisir menjadi gundul. Pulau-pulau dan pantai berubah menjadi lanskap penuh batang pohon mati, abu, lumpur dan material vulkanik.

6. Fase pascabencana

Gempa, fenomena atmosfer dan aktivitas vulkanik lanjutan masih terjadi hingga September–Oktober dan bahkan tercatat adanya gempa di Banten sampai Desember 1883.

Nilai penting buku ini bagi penelitian sejarah Banten

Menurut saya, Krakatau Verbeek sangat penting jika penelitian Anda ingin mengangkat sejarah Merak, Anyer, Serang, Tjaringin, atau Selat Sunda, karena buku ini memungkinkan kita berpindah dari narasi umum "Krakatau meletus dan menimbulkan tsunami" menuju rekonstruksi mikro sejarah daerah.

Misalnya, dari buku ini kita dapat menyusun kajian:

"Banten dalam Bencana Krakatau 1883: Kehancuran Pesisir, Perubahan Lanskap, dan Krisis Masyarakat di Selat Sunda."

Atau lebih khusus:

"Merak 1883: Rekonstruksi Kehancuran Pelabuhan dan Masyarakat Pesisir akibat Tsunami Krakatau."

Bahkan data dalam buku memungkinkan dibuat peta sejarah bencana Banten 1883 yang memperlihatkan jalur gelombang, lokasi korban, ketebalan abu, lokasi permukiman yang hancur, serta perubahan lanskap Merak–Anyer–Tjaringin. Buku ini menyediakan data topografi sebelum dan sesudah bencana serta gambar khusus Poeloe Merak setelah kehancuran.

Catatan sumber: angka korban dan waktu dalam buku adalah data yang dihimpun Verbeek pada 1883–1885 berdasarkan laporan kolonial dan kesaksian yang tersedia saat itu. Verbeek sendiri mengakui bahwa sebagian laporan awal saling bertentangan dan beberapa angka kemudian diperbaiki.

❮ sebelumnya
selanjutnya ❯
+

banner_jasaps_250x250.png
<<
login/register to comment
×
  • ic_write_new.png expos
  • ic_share.png rexpos
  • ic_order.png urutan
  • sound.png malsa
  • view_list1.png list
  • ic_mode_light.png light
× rexpos
    ic_posgar2.png tg.png wa.png link.png
  • url:
× urutan
ic_write_new.png ic_share.png ic_order.png sound.png view_masonry.png ic_mode_light.png ic_other.png
ic_comment.png Pesan
ic_argumen.png